Hahaa..!! I'm back!!
Sore-sore mumpung lagi bosen dan nggak ada kerjaan, saya memutuskan untuk melanjutkan FF ini.
Inilah part 2-nya, sekaligus endingnya!
Maaf kalau ga jelas, y.. ^^
Part 2
Keesokan paginya, Seungri bangun sambil mengucek-ngucek
matanya yang masih merah. Semalam, ia mendengarkan musik super keras dan
menangis sejadi-jadinya. Para hyungnya mendengarnya atu tidak, ia tidak peduli.
Yang jelas, tadi malam ia membuat salah satu bantalnya hancur lebur gara-gara
ia tinjui. Meja tulisnya juga berantakan ; diatasnya terdapat kertas-kertas
bertuliskan : I Hate my Hyungs! Di belakang pintu kamarnya yang terdapat
foto-fotonya dengan para Hyung sudah ditarik lepas sehingga sisanya berhamburan
menyedihkan. Saat melihat perbuatannya semalam, Seungri rasanya jadi tambah
malas.
Akhirnya ia
memutuskan untuk pergi ke taman dekat rumah untuk menenangkan diri. Berhubung
udara diluar dingin, ia mengenakan jumper abu-abu bertuliskan : 1, 2, 3
Rythmes!!!, jumper yang dibenci Ji Yong. Tapi ia tidak peduli sekarang ini. Dia
sedang marah setengah mati dengan hyungnya, untuk apa peduli dengan apa yang
mereka benci…?
Begitu keluar
kamar, Seungri mengendap-endap dan mendapati para hyugnnya masih tidur nyenyak.
Ia segera cepat-cepat keluar dari rumah dan memakai hoodie untuk menahan angin masuk melalui telinganya. Sepanjang
jalan menuju taman, Seungri bernyanyi lagu “I Hate You” milik 2NE1. Dia tidak
pernah merasa semarah ini pada hyung-hyungnya. Tapi tadi malam ia merasa kalau
tidakan mereka semua sudah sangat keterlaluan. Oke, dia mungkin yang
mengobrak-abrik rumah, tapi mereka duluan yang tidak mengajaknya, kan? Dia
tidak bisa disalahkan sepenuhnya!
Seungri terus
berdebat dengan diri sendiri siapa yang salah. Tanpa sadar, ia sudah tiba di
taman kecil dengan danau buatan yang membuatnya dapat merasa tenang.
“Hyung
menyebalkan!” gerundelnya sambil duduk disebuah bangku taman kosong. “Aku bukan
anak kecil lagi!”
Sementara itu di
rumah mereka, Yong Bae yang bangun paling pertama tampaknya tidak memerhatikan
Seungri sudah tidak dikamarnya lagi. Yong Bae sedang berjalan setengah sadar ke
dapur. Beberapa menit kemudian, Daesung bangung. Ia berjalan dengan mata masih
tertutup ke toilet, nyaris menghantam tembok. Ji Yong dan Seung Hyung bangun
lima menit kemudian dan bergabung dengan Yong Bae didapur.
“Ohayoo gozaimasu…”
kata Daesung sambil meraih gelas susu milik Ji Yong yang masih sisa setengah.
“Ohayoo,” jawab
Yong Bae singkat, ia masih terlihat kesal karena ulah Seungri semalam.
“Mana Seungri?”
tanya Ji Yong tiba-tiba, membuyarkan lamunan Yong Bae untuk menghajar Seungri
nanti siang. “Aku tidak melihatnya pagi ini.”
“Benar juga.. Kalau
dipikr-pikir, aku juga belum melihatnya,” timap Seung Hyun setuju. “Ayo kita ke
kamarnya.”
“Dui…” kata Ji Yong
dalam bahasa Mandarin. “Seungri-yya…!!!”
Ji Yong sudah
berulang-ulang mengetuk pintu kamar Seungri sebelum akhirnya menyerah. Seung
Hyun pun turun tangan dan mulai membujuk agar Seungri keluar ; awalnya dia
meminta maaf dan berjanji lain kali akan mengajaknya, lalu berakhir dengan
membuka pintu kamar Seungri…
…yang sudah tidak terkunci.
Dengan panik, Seung
Hyun berlari ke dapur dan mengumumkan, “Seungri kabur.”
Daesung, Yong Bae,
dan Ji Yong saling berpandangan sebelum dengan kompak bangkit, meraih jaket
mereka yang disampirkan di gantungan sebelah pintu keluar. Mereka berpencar
mencari Seungri. Yong Bae ke mini market tempat biasanya Seungri membeli snack,
Seung Hyun berlarian di lapangan sepak bola, Daesung mencari Seungri di rumah
hijau mungil dekat situ, dan Ji Yong mencari Seungri di taman dengan danau
buatan tempat Seungri biasanya menenangkan diri.
Ji Yong setengah
berlari menuju taman itu, tapi kemudian mendadak berhenti di gerbang masuk saat
menemukan sesosok yang amat dikenalnya. Ia perlahan mendekati seorang lelaki
dengan tampang kurang lebih 16 tahun, memakai sweater abu-abu bertuliskan
‘1,2,3 Rhytmes!!’ yang amat dibencinya.
Ia mengamati Seungri dari belakang dengan seksama. Dia memang sudah besar. Ji Yong menyunggingkan senyum kecil. Ia jadi
ingat saat melihat Seungri pertama kali, dan menganggapnya sebagai seorang
bocah yang tidak punya aturan dan tidak sopan. Tapi, sekarang ini yang
dilihatnya adalah seorang remaja yang beranjak dewasa, seorang yang sudah
banyak berubah setiap harinya.
“Lee Seung Hyun,” tanpa sadar Ji Yong membisikan nama
asli Seungri secara perlahan, mirip seperti seorang kakak laki-laki yang amat
merindukan adiknya.
Seungri yang merasakan
namanya disebut walau samar-samar, menoleh, dan mendapati Jiyong sedang
memandanginya dengan senyuman kecil tersungging di bibirnya. Pagi itu udaranya
dingin, sampai nafas mereka tampat seperti asap putih berkilau. Awalnya,
perasaan sebal yang masih terendap di hati Seungri menguasainya, tapi kemudian,
perasaannya itu hilang melihat air mata merekah di mata Ji Yong.
“Eh, yah, hyung!”
Seungri segera
menghampiri Ji Yong dengan perasaan bingung. Ji Yong mengalihkan pandangannya
dan menarik hoodie jaketnya sehingga menutupi kedua matanya. Seungri bingung
harus bagaimana. Ji Yong entah bagaimana terlihat seperti sebuah boneka
porselon yang amat rentan saat itu. Kulit pucatnya, mukanya yang bisa dibilang
cantik disbanding dengan yang lain, dan rambut cokelat kehitamannya…
“You have grown
up…” gumam Ji Yong, melepaskan hoodienya. “You do have grown up since we first
time met.”
Mulut Seungri
terasa kering. Ia merasa amat bersalah membentak para hyungnya semalam. Ia juga
merasa bersalah karena menghancurkan setengah ruangan dari rumah mereka, dan
yang paling membuatnya tertekan adalah, tidak mengerti apa sebetulnya maksud
para hyungnya itu.Tanpa terasa, setetes air mata jatuh dari mata Seungri. Ia
cepat-cepat menunduk, dan mengelapnya dengan lengan sweaternya.
“You know what…? We
all just wanted to protected you, cause you’re our maknae…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar