L.O.V.E

L.O.V.E

Minggu, 25 November 2012

Big Bang FF-(Part 2) Maknae, the youngest, unmature, need to be protect


Hahaa..!! I'm back!!
Sore-sore mumpung lagi bosen dan nggak ada kerjaan, saya memutuskan untuk melanjutkan FF ini.
Inilah part 2-nya, sekaligus endingnya!
Maaf kalau ga jelas, y.. ^^


Part 2
Keesokan paginya, Seungri bangun sambil mengucek-ngucek matanya yang masih merah. Semalam, ia mendengarkan musik super keras dan menangis sejadi-jadinya. Para hyungnya mendengarnya atu tidak, ia tidak peduli. Yang jelas, tadi malam ia membuat salah satu bantalnya hancur lebur gara-gara ia tinjui. Meja tulisnya juga berantakan ; diatasnya terdapat kertas-kertas bertuliskan : I Hate my Hyungs! Di belakang pintu kamarnya yang terdapat foto-fotonya dengan para Hyung sudah ditarik lepas sehingga sisanya berhamburan menyedihkan. Saat melihat perbuatannya semalam, Seungri rasanya jadi tambah malas.

   Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke taman dekat rumah untuk menenangkan diri. Berhubung udara diluar dingin, ia mengenakan jumper abu-abu bertuliskan : 1, 2, 3 Rythmes!!!, jumper yang dibenci Ji Yong. Tapi ia tidak peduli sekarang ini. Dia sedang marah setengah mati dengan hyungnya, untuk apa peduli dengan apa yang mereka benci…?
   Begitu keluar kamar, Seungri mengendap-endap dan mendapati para hyugnnya masih tidur nyenyak. Ia segera cepat-cepat keluar dari rumah dan memakai hoodie untuk menahan angin masuk melalui telinganya. Sepanjang jalan menuju taman, Seungri bernyanyi lagu “I Hate You” milik 2NE1. Dia tidak pernah merasa semarah ini pada hyung-hyungnya. Tapi tadi malam ia merasa kalau tidakan mereka semua sudah sangat keterlaluan. Oke, dia mungkin yang mengobrak-abrik rumah, tapi mereka duluan yang tidak mengajaknya, kan? Dia tidak bisa disalahkan sepenuhnya!
   Seungri terus berdebat dengan diri sendiri siapa yang salah. Tanpa sadar, ia sudah tiba di taman kecil dengan danau buatan yang membuatnya dapat merasa tenang.
    “Hyung menyebalkan!” gerundelnya sambil duduk disebuah bangku taman kosong. “Aku bukan anak kecil lagi!”
   Sementara itu di rumah mereka, Yong Bae yang bangun paling pertama tampaknya tidak memerhatikan Seungri sudah tidak dikamarnya lagi. Yong Bae sedang berjalan setengah sadar ke dapur. Beberapa menit kemudian, Daesung bangung. Ia berjalan dengan mata masih tertutup ke toilet, nyaris menghantam tembok. Ji Yong dan Seung Hyung bangun lima menit kemudian dan bergabung dengan Yong Bae didapur.
   “Ohayoo gozaimasu…” kata Daesung sambil meraih gelas susu milik Ji Yong yang masih sisa setengah.
   “Ohayoo,” jawab Yong Bae singkat, ia masih terlihat kesal karena ulah Seungri semalam.
   “Mana Seungri?” tanya Ji Yong tiba-tiba, membuyarkan lamunan Yong Bae untuk menghajar Seungri nanti siang. “Aku tidak melihatnya pagi ini.”
   “Benar juga.. Kalau dipikr-pikir, aku juga belum melihatnya,” timap Seung Hyun setuju. “Ayo kita ke kamarnya.”
   “Dui…” kata Ji Yong dalam bahasa Mandarin. “Seungri-yya…!!!”
   Ji Yong sudah berulang-ulang mengetuk pintu kamar Seungri sebelum akhirnya menyerah. Seung Hyun pun turun tangan dan mulai membujuk agar Seungri keluar ; awalnya dia meminta maaf dan berjanji lain kali akan mengajaknya, lalu berakhir dengan membuka pintu kamar Seungri…
…yang sudah tidak terkunci.
   Dengan panik, Seung Hyun berlari ke dapur dan mengumumkan, “Seungri kabur.”
   Daesung, Yong Bae, dan Ji Yong saling berpandangan sebelum dengan kompak bangkit, meraih jaket mereka yang disampirkan di gantungan sebelah pintu keluar. Mereka berpencar mencari Seungri. Yong Bae ke mini market tempat biasanya Seungri membeli snack, Seung Hyun berlarian di lapangan sepak bola, Daesung mencari Seungri di rumah hijau mungil dekat situ, dan Ji Yong mencari Seungri di taman dengan danau buatan tempat Seungri biasanya menenangkan diri.
   Ji Yong setengah berlari menuju taman itu, tapi kemudian mendadak berhenti di gerbang masuk saat menemukan sesosok yang amat dikenalnya. Ia perlahan mendekati seorang lelaki dengan tampang kurang lebih 16 tahun, memakai sweater abu-abu bertuliskan ‘1,2,3  Rhytmes!!’ yang amat dibencinya. Ia mengamati Seungri dari belakang dengan seksama. Dia memang sudah besar. Ji Yong menyunggingkan senyum kecil. Ia jadi ingat saat melihat Seungri pertama kali, dan menganggapnya sebagai seorang bocah yang tidak punya aturan dan tidak sopan. Tapi, sekarang ini yang dilihatnya adalah seorang remaja yang beranjak dewasa, seorang yang sudah banyak berubah setiap harinya.
   “Lee Seung  Hyun,” tanpa sadar Ji Yong membisikan nama asli Seungri secara perlahan, mirip seperti seorang kakak laki-laki yang amat merindukan adiknya.
   Seungri yang merasakan namanya disebut walau samar-samar, menoleh, dan mendapati Jiyong sedang memandanginya dengan senyuman kecil tersungging di bibirnya. Pagi itu udaranya dingin, sampai nafas mereka tampat seperti asap putih berkilau. Awalnya, perasaan sebal yang masih terendap di hati Seungri menguasainya, tapi kemudian, perasaannya itu hilang melihat air mata merekah di mata Ji Yong.
   “Eh, yah, hyung!”
   Seungri segera menghampiri Ji Yong dengan perasaan bingung. Ji Yong mengalihkan pandangannya dan menarik hoodie jaketnya sehingga menutupi kedua matanya. Seungri bingung harus bagaimana. Ji Yong entah bagaimana terlihat seperti sebuah boneka porselon yang amat rentan saat itu. Kulit pucatnya, mukanya yang bisa dibilang cantik disbanding dengan yang lain, dan rambut cokelat kehitamannya…
   “You have grown up…” gumam Ji Yong, melepaskan hoodienya. “You do have grown up since we first time met.”
   Mulut Seungri terasa kering. Ia merasa amat bersalah membentak para hyungnya semalam. Ia juga merasa bersalah karena menghancurkan setengah ruangan dari rumah mereka, dan yang paling membuatnya tertekan adalah, tidak mengerti apa sebetulnya maksud para hyungnya itu.Tanpa terasa, setetes air mata jatuh dari mata Seungri. Ia cepat-cepat menunduk, dan mengelapnya dengan lengan sweaternya.
   “You know what…? We all just wanted to protected you, cause you’re our maknae…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar